Tampilkan postingan dengan label Exciting Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Exciting Banten. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2020

Akomodir Potensi Panas Bumi dan Wisata Alam, Zonasi TNGHS Akan Kembali Direvisi

Pemaparan draf usulan perubahan zonasi TNGHS oleh Kasi PTNW I Lebak
Cipanas – Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menggelar konsultasi publik terkait pembahasan draf revisi zonasi TNGHS di Kantor Seksi PTN W I Lebak, Rabu (23/9). Acara itu diikuti oleh beberapa OPD Kabupaten Lebak salah satunya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Kepala Seksi PTN W I Lebak, Siswoyo, menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai syarat disetujuinya perubahan zonasi TNGHS. “Aturan mengenai evaluasi atau review zonasi Taman Nasional bisa dilakukan setelah 3 tahun, akan tetapi bisa dilakukan sebelum itu bilamana terjadi kondisi tertentu (force majeure). Selain itu juga harus melampirkan berita acara telah dilakukan konsultasi publik yang menyepakati perubahan zonasi tersebut dengan menjabarkan alasan-alasannya,” ungkap Siswoyo. Perlu diketahui bahwa perubahan zonasi TNGHS terakhir baru disahkan belum sampai satu tahun tepatnya tanggal 12 September 2019 melalui SK Dirjen KSDAE No.SK.375/KSDAE/PIKA/KSA.0/9/2019. Akan tetapi, dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti force majeure berupa bencana alam di awal tahun 2020 dan rencana pengembangan potensi panas bumi atas usulan langsung dari Kementerian ESDM serta tingginya minat pariwisata alam yang berkembang di masyarakat sehingga perubahan zonasi TNGHS harus kembali dilakukan.

“Terdapat keuntungan dari adanya pengembangan panas bumi Gunung Endut bagi wilayah di sekitarnya antara lain peningkatan PNBP, masuknya berbagai CSR, hingga penyerapan tenaga kerja lokal serta mempercepat pembangunan wilayah,” tambah Siswoyo mengakhiri pemaparannya. Kepala Bidang Perekonomian dan SDA Bappeda, Iman Hiddayat, mengungkapkan hal senada perihal manfaat dari adanya pengembangan panas bumi Gunung Endut tersebut. “Pada prinsipnya dengan rencana investasi yang besar, harapannya dari pemanfaatan panas bumi akan menciptakan multiplier effect sehingga perekonomian bisa tumbuh dengan baik di wilayah sekitarnya,” kata Iman. Kesepakatan dalam konsultasi publik revisi zona pengelolaan TNGHS antara lain merubah zona rehabilitasi dan zona tradisional di wilayah Resort Gunung Bongkok menjadi zona pemanfaatan untuk mengakomodir potensi panas bumi. Selain itu juga, dilakukan perluasan zona pemanfaatan di Resort Panggarangan untuk potensi pengembangan objek wisata alam Curug Cikadupunah.

Selasa, 29 September 2020

Gelar FGD, Pemerintah Kabupaten Lebak Ingin Wujudkan Sinergitas Pengembangan Geopark Bayah Dome Secara Pentahelix

FGD dihadiri langsung oleh Bupati, Wakil Bupati, dan Sekretariat Daerah Kabupaten Lebak. (Dok. Bappeda Kabupaten Lebak)

Lebak – Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka penyusunan Masterplan Geopark Bayah Dome bertempat di Aula Multatuli, Sekretariat Daerah Kabupaten Lebak, Rabu (16/9). Tema yang diangkat dalam FGD ini yaitu “Membangun Sinergitas dalam Pengembangan Keragaman Potensi Wisata Warisan Geologi Bayah Dome Menuju Geopark Nasional”. FGD ini turut mengundang berbagai pemangku kepentingan seperti dunia usaha, masyarakat, akademisi, media, dan pemerintah itu sendiri (pentahelix). 

Pelaksanaan FGD ini dilatarbelakangi dengan telah ditetapkannya Kawasan Geopark Bayah Dome yang berada di 12 kecamatan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Lebak Nomor : 050/Kep.104-BAPPEDA/2020 tentang Penetapan Lokasi Kawasan Geopark Bayah Dome. Selanjutnya juga mengacu kepada amanat Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark), pada pasal 8 menyatakan bahwa perencanaan Geopark dilakukan melalui penyusunan Rencana Induk/Masterplan Geopark oleh Pemerintah Daerah. Kemudian dari hasil inventarisasi dalam kajian warisan geologi Bayah Dome, terdapat beberapa geosite yang sebagian besar lokasinya berada dalam penguasaan Perum Perhutani, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), PT. Cemindo Gemilang, dan PT. Aneka Tambang. Oleh karena itu, untuk mewujudkan perencanaan dan pengelolaan Geopark yang komprehensif, maka diperlukan sinergitas antar pemangku kepentingan melalui kemitraan.

Tujuan dari pelaksanaan FGD ini diantaranya untuk menyampaikan informasi terkait dengan ruang lingkup penyusunan Rencana Induk/Masterplan Geopark Bayah Dome yang sedang dilaksanakan oleh Tim Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi Universitas Padjajaran (Puslit GKG-UNPAD). Selain itu juga, tentunya untuk memperoleh masukan tentang potensi, tantangan, dan langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam rangka pengembangan Geopark Bayah Dome di Kabupaten Lebak. Lalu yang tak kalah penting ialah agar dapat memetakan peluang kemitraan melalui program pengembangan kerja sama dan peran aktif dalam pengelolaan Geopark Bayah Dome di Kabupaten Lebak. Oleh karena itu, dengan kehadiran para pemangku kepentingan diharapkan tujuan-tujuan tersebut dapat tercapai guna mewujudkan sinergitas dalam pengembangan Geopark Bayah Dome.

Adapun dikarenakan masih berlangsungnya pandemi covid-19, sehingga FGD ini dilaksanakan menggunakan dua metode yaitu dalam jaringan dan luar jaringan guna memenuhi standar protokol kesehatan.

Selasa, 04 Agustus 2020

Kemenparekraf RI Gelar FGD Virtual, Kepala Bappeda Sampaikan Potensi dan Harapan Pengembangan Wisata Ramah Muslim di Kabupaten Lebak

Bupati Lebak didampingi Kepala Bappeda Lebak saat menyampaikan sambutan di Lebak Data Center, Selasa (4/8)

Lebak – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak, Hj. Virgojanti, mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Virtual dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI di Lebak Data Center, Selasa (4/8). Tema yang diangkat dalam FGD ini yaitu Peran Masyarakat dalam Peningkatan Rantai Nilai Pariwisata Ramah Muslim di Kawasan Geopark Bayah Dome. Turut hadir Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, untuk memberikan sambutan di awal acara.

Bupati Lebak menyampaikan dukungan dalam sambutannya terhadap program pengembangan wisata ramah muslim ini. Hal tersebut dikarenakan sejalan dengan visi Kabupaten Lebak yaitu Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal. Selain itu juga, Bupati Lebak mengharapkan dukungan dari Pemerintah Pusat dalam perwujudan visi tersebut. “Tentunya kami memohon dukungan dari Bapak Ibu sekalian para Deputi terutama sektor pariwisata dan juga Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) untuk mendorong Kabupaten Lebak bisa berdiri sejajar dengan kabupaten/kota lainnya dan juga dikancah Nasional,” pungkas Bupati mengakhiri sambutannya.

Selanjutnya, Kepala Bappeda Kabupaten Lebak saat menyampaikan paparan lebih menjabarkan perihal profil wilayah, perkembangan pengembangan Geopark Bayah Dome, dan kebijakan pemerintah daerah dalam mendukung kepariwisataan di Kabupaten Lebak. Pada akhir paparannya, disampaikan potensi dan harapan pengembangan wisata ramah muslim di Kabupaten Lebak. “Lebak mayoritas muslim dengan potensi wisata yang banyak namun belum ada langkah-langkah strategis dalam rangka menangkap peluang pengembangan wisata ramah muslim. Sehingga perlu adanya satu konsep yang terstandar dalam rangka mengembangkan program wisata ramah muslim dengan didukung partisipasi aktif masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai syariat dalam setiap aktivitas kepariwisataan seperti ketersediaan sarana peribadatan, standar makan minum halal, kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Tentu tak lupa juga mengakui dan menghargai hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan wisata di dalam sebuah kawasan,” tutup Kepala Bappeda Lebak.

Kamis, 20 Februari 2020

Hadirnya Proyek Strategis dan Fokus Kembangkan Pariwisata, Lebak Optimis Laju Pertumbuhan Ekonomi Akan Terus Tumbuh

Salah satu narasumber saat memaparkan materi dalam rapat di Ruang Transit Pendopo Gubernur Banten, Kamis (20/2)

Serang – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak menghadiri Rapat Koordinasi Bidang Perekonomian Biro Bina Perekonomian Setda Provinsi Banten Tahun Anggaran 2020 di Ruang Transit Pendopo Gubernur Banten, Kamis (20/2).

Dalam paparan yang disampaikan langsung oleh Plt. Kepala Biro Bina Perekonomian Setda Provinsi Banten, Mahdani, disebutkan bahwa salah satu programnya yaitu melakukan perumusan kebijakan perekonomian. “Salah satunya Biro Perekonomian sedang mengkaji objek-objek religi di Provinsi Banten berdasarkan arahan Gubernur Banten langsung yang melihat adanya potensi besar dari wisata budaya dan religi,” tutur Mahdani. Bahkan Gubernur Banten sedang mengirim 3 (tiga) orang ke Belanda untuk mengumpulkan dan meng-copy arsip-arsip bersejarah tentang Kerajaan Banten. Selain itu, tahun ini Provinsi Banten juga akan membangun pusat sentra UMKM di Kawasan Banten Lama dengan luas lahan 4 (empat) hektar dan satu lagi lokasi yang direncanakan tepatnya di Cikokol namun masih dipending karena terkait luasan lahan.

“Kabupaten Lebak memiliki potensi pariwisata yang sangat melimpah, termasuk juga di dalamnya wisata religi,” kata Imam Suangsa selaku Sekretaris Bappeda saat menyampaikan tanggapan. Imam menjelaskan bahwa saat ini mungkin Kabupaten Lebak dari segi pertumbuhan ekonomi belum bisa menyamai Provinsi Banten, namun dipastikan akan terus tumbuh karena berkat visi Bupati yang berfokus terhadap pariwisata. Pada tahun ini, Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Bappeda sedang mewujudkan Lanskap Ekowisata dan mengembangkan Geopark Bayah Dome menjadi Geopark Nasional. “Yang terpenting dalam tiga hingga empat tahun ke depan berkat adanya proyek strategis nasional seperti Jalan Tol Serang-Panimbang yang mana terdapat 3 (tiga) exit tol di Lebak dan juga pembangunan DAM Karian akan otomatis merubah wajah Lebak. Dengan kehadiran proyek strategis nasional tersebut tentunya memicu pertumbuhan perekonomian Lebak salah satunya akan muncul industri berbasis agro melalui potensi komoditas unggulan dari sektor pertanian dan perkebunan yang ada,” pungkas Imam.

Minggu, 09 Februari 2020

Kembali Gandeng UNPAD, Lebak Mulai Susun Rencana Induk Geopark Bayah Dome

Foto bersama tim dari Bappeda Kabupaten Lebak dengan Puslit GKG Unpad di Unpad Dipatiukur, Kamis (6/2)

Bandung – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak mengadakan pertemuan dengan Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi (Puslit GKG) di Universitas Padjajaran (UNPAD) Dipatiukur, Kamis (6/2). Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Kepala Bappeda, Hj. Virgojanti, guna membahas persiapan penyusunan Rencana Induk Geopark Bayah Dome.

“Ternyata Geopark diprediksi akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Banten berdasarkan keterangan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten saat Rapat Pembahasan Kerangka Ekonomi Makro Daerah (KEMD) Provinsi Banten,” tutur Virgojanti. Hal tersebut tentu menjadi peluang besar bagi Kabupaten Lebak yang sedang mengembangkan Geopark Bayah Dome. Oleh karena itu, Bappeda Kabupaten Lebak akan mensosialisasikan mengenai potensi Geopark dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Lebak nantinya. “Rencananya kami akan mengundang Prof. Mega sebagai salah satu narasumber guna menjelaskan tentang Geopark Bayah Dome, sehingga nantinya seluruh stakeholders yang diundang mengetahui apa yang harus dilakukan dan dijaga,” kata Virgojanti.

Ketua Puslit GKG, Prof. Mega, sangat antusias untuk bisa menjadi narasumber dalam Musrenbang Kabupaten Lebak dan juga menyatakan kesiapan timnya untuk kembali bekerjasama dengan Bappeda Kabupaten Lebak dalam penyusunan Rencana Induk Geopark Bayah Dome. “Diharapkan saat Musrenbang, bisa mengundang seperti Chemindo dan Antam agar konsep pentahelix dapat dilakukan salah satunya dari segi kontribusi CSR dalam penguatan Geopark,” pungkas Mega. Untuk proses penyusunan Rencana Induk Geopark Bayah Dome, tim Puslit GKG Unpad membutuhkan data-data awal berupa data sekunder perihal data perekonomian, tata ruang, dan sebaran biodiversity hingga cultural diversity dari kajian yang ada di instansi terkait. Perihal proses Geopark Bayah Dome menuju Geopark Nasional, selain mengajukan penetapan Warisan Geologi kepada Kementerian ESDM, Pemerintah Kabupaten Lebak diminta segera membuat Surat Keputusan (SK) Bupati untuk Badan Pengelola Geopark dan Penetapan Lokasi Kawasan hasil kajian Warisan Geologi sebelumnya. 

“Kami merasa terhormat dan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Pemerintah Kabupaten Lebak kepada tim Puslit GKG untuk bekerjasama dalam pengembangan Geopark Bayah Dome,” tutup Mega.

Senin, 03 Februari 2020

Kenalkan Geopark dan Ecotourism, Masyarakat Sobang Diminta Gali Potensi Wisata

Kabid Perekonomian dan SDA Bappeda Lebak saat menyampaikan sambutan Bupati di Kecamatan Sobang, Kamis (30/1)

Sobang – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak menghadiri Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Lebak Tahun 2021 Tingkat Kecamatan di Kantor Camat Sobang, Kamis (30/1). Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Lebak, Iman Hiddayat, menjadi salah satu narasumber sekaligus membuka kegiatan tersebut.

“Penciptaan nilai tambah ekonomi pada objek destinasi pariwisata potensial menjadi salah satu prioritas pembangunan di Kabupaten Lebak pada tahun 2021,” kata Iman. Saat ini Pemerintah Kabupaten Lebak sedang mengembangkan Geopark Bayah Dome dan Ecotourism. Iman menuturkan bahwa Kecamatan Sobang masuk ke dalam delineasi hasil kajian warisan geologi yang dilakukan oleh tim dari Universitas Padjajaran. Sedangkan untuk Ecotoursim, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menilai Kabupaten Lebak layak untuk mengembangkan jasa wisata tersebut bila dilihat dari kondisi alam dan kekayaan budayanya. “Oleh karena itu, Bupati Lebak akan konsen terhadap pengembangan Ecotourism di Lebak ini, termasuk Kecamatan Sobang bila dirasa memiliki potensi untuk itu silahkan digali dan dikembangkan sehingga akan tercipta nilai tambah,” pungkas Iman.

“Kecamatan Sobang terdapat 9 (sembilan) titik yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata, namun masih terdapat beberapa permasalahan terkait akses jalan,” tutur H. Rosyid selaku Camat Sobang. Curug Cipicung dan Goa Sangiang merupakan beberapa potensi wisata yang akan masuk dalam kegiatan pembangunan tahun anggaran 2020 terkait Pengadaan dan Pemeliharaan Penerangan Jalan Umum (PJU). Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Lebak, Junaedi Ibnu Jarta, yang turut hadir dalam Musrenbang di Kecamatan Sobang juga menegaskan bahwa sebagai warga asli Sobang yang juga diamanahkan untuk mewakili suara masyarakat Sobang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengawal segala usulan masyarakat melalui mekanisme yang ada.  

Selasa, 28 Januari 2020

Isu Tata Ruang dan Infrastruktur Mencuat di Musrenbang Kecamatan Maja

Camat Maja saat berinteraksi dengan Bupati Lebak melalui Teleconference di Kantor Camat Maja, Selasa (28/1)

Maja – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak mengirim perwakilannya untuk menghadiri pembukaan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2021 tingkat kecamatan secara Daring (Dalam Jaringan) di Kantor Camat Maja, Selasa (28/1). 

Anggota DPRD Kabupaten Lebak, Abdul Rohman, menyoroti perihal tata ruang dan jalan penghubung di Kecamatan Maja. “Saya meminta agar masyarakat dilibatkan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Lebak dan tim penyusun Raperda untuk mensosialisasikan kepada DPRD serta mengekspos hasilnya kepada masyarakat,” tutur Abdul Rohman. Abdul Rohman juga menambahkan perihal jalan penghubung Kecamatan Rangkasbitung ke Kecamatan Maja yang berada di Papanggo Citeras kemudian ke Cilaja Hilir sampai Cirangko agar diusulkan menjadi jalan kabupaten. Kemudian Camat Maja, Abdul Rohim, juga menuturkan bahwa Kecamatan Maja memiliki beberapa potensi pengembangan pariwisata seperti kuliner maupun wisata alam. “Terdapat aset pemerintah desa berupa lahan seluas 0,12 Ha di depan Stasiun Maja dan 1 Ha di area Citra Maja Raya serta Situ Cicinta dengan luas 4 Ha yang bisa dikembangkan potensinya namun asetnya dimiliki oleh Balai Besar,” jelas Abdul Rohim.

Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, menanggapi terkait tata ruang saat ini sedang proses evaluasi dari provinsi yang nantinya hasil tersebut akan disosialisasikan kepada DPRD untuk dijadikan Perda. Perihal Situ Cicinta memang kewenangannya ada di provinsi, saat ini sedang diusulkan untuk bisa ditangani kabupaten bahkan desa dalam hal pengelolaan hingga pemanfaatannya. “Maja yang masuk ke dalam proyek strategis nasional seperti kota baru satu-satunya di Pulau Jawa dan akan menjadi pusat ekonomi kreatif, perlu disiapkan mental dan peningkatan kualitas sumber daya manusianya,” kata Iti. Bupati Lebak menambahkan dengan perkembangan Maja ke depan yang semakin pesat, perlu dibarengi dengan respon cepat dari pemerintah hingga masyarakat agar mampu memanfaatkan potensi tersebut guna mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. 

Bentuk Tim Percepatan, Pemda Lebak Kebut Pengembangan Geopark Bayah Dome

Kepala Bidang Perekonomian dan SDA Bappeda Kabupaten Lebak saat memimpin rapat di Aula Bappeda, Senin (27/1)

Rangkasbitung – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak menggelar rapat koordinasi dalam rangka pembentukan Tim Percepatan Pengembangan Geopark Bayah Dome di Aula Bappeda Kabupaten Lebak, Senin (27/1). Rapat yang dipimpin oleh Kepala Bidang Perekonomian dan Sumberdaya Alam Bappeda Kabupaten Lebak, Iman Hiddayat, turut dihadiri Tenaga Ahli Ekowisata Lebak, M. Nurdin Razak, dan dinas-dinas terkait.

“Output yang dihasilkan melalui rapat ini yaitu tersusunnya draf Surat Keputusan (SK) Bupati tentang Tim Percepatan Pengembangan Geopark Bayah Dome,” tutur Iman. Melalui Tim Percepatan ini akan dibentuk sebuah Badan Pengelola Geopark sebagai salah satu syarat dalam Rencana Induk Geopark yang telah diagendakan oleh Bappeda tahun ini. Perlu diketahui juga bahwa dalam tahapan-tahapan pengembangan Geopark yang tertuang di Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019, dibutuhkan kolaborasi dan kerjasama dengan beberapa stakeholders sehingga dibutuhkannya Tim Percepatan dan Badan Pengelola guna pengembangan Geopark Bayah Dome. “Melalui pengembangan Geopark ini, dapat menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan visi Bupati dan Wakil Bupati Lebak yang ingin menjadikan Lebak sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional,” pungkas Iman.

Tenaga Ahli Ekowisata, M. Nurdin Razak, menjelaskan perihal Geopark bahwa geologi merupakan gerbang awal tetapi yang utama adalah peningkatan kapasitas masyarakat (carrying capacity). Sehingga indikator-indikator yang dipakai dari pengembangan Geopark ujungnya yaitu Ekowisata seperti awerness and capacity building dan local empowerment. “Selain warisan geologi yang ada, Kabupaten Lebak memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan Geopark dengan merujuk pada kekayaan cultural diversity dan biodiversity-nya seperti keberadaan masyarakat adat Suku Baduy dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak,” kata Nurdin. Selain itu, Nurdin juga memberikan beberapa catatan untuk pembentukan Tim Percepatan ini, salah satunya meminta dibuatkan matriks tupoksi yang memiliki benang merah tiap-tiap anggota yang tergabung dalam tim. 

Rabu, 22 Januari 2020

Ecotourism Class Fokus Penguatan SDM dan Kelembagaan Tata Kelola Ekowisata Lebak

 Tenaga Ahli Ekowisata, M. Nurdin Razak, saat menyampaikan materi dalam Ecotourism Class, Selasa (21/1)

Leuwidamar – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak menghadiri kegiatan Ecotourism Class di Stingless Bee House, Desa Nayagati, Kecamatan Leuwidamar, Selasa (21/1). Turut hadir Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak, Rismahayadin Imam, bersama para jajarannya termasuk beberapa tenaga ahli Pariwisata Kabupaten Lebak.

Ecotourism Class merupakan sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh Putuh Komaratullah bersama teman-teman komunitasnya dari Desa Nayagati dengan menggandeng tenaga ahli Ekowisata Kabupaten Lebak, M. Nurdin Razak. Direncanakan kegiatan ini berlangsung selama 5 (lima) hari terhitung dari Senin hingga Jumat (20-24 Januari 2020). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk penguatan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan dalam hal tata kelola Ekowisata di Kabupaten Lebak. “Ini merupakan awal dari rangkaian rencana besar yang telah disusun untuk pengembangan Ekowisata di Kabupaten Lebak tahun 2020. Ke depannya kegiatan seperti ini akan terus digulirkan khususnya di lanskap-lanskap Ekowisata bahkan juga untuk menunjang pengembangan Geopark Bayah Dome,” tutur Nurdin. Adapun materi-materi yang disampaikan dalam kegiatan ini antara lain materi ekowisata, manajemen homestay, manajemen destinasi, spatial planning, environment law, waste management, digital marketing, community development, hingga field trip ke beberapa objek daya tarik wisata di Lanskap Penyangga Baduy. 

“Pemerintah Kabupaten Lebak saat ini sudah sejalan dalam hal paradigma pembangunan pariwisata ke depan yaitu target utamanya menghasilkan nilai tambah dari pariwisata,” kata Iman selaku Kabid Perekonomian dan SDA Bappeda Kabupaten Lebak. Bahkan beliau menambahkan melalui pengembangan Ekowisata ini dan juga Geopark salah satunya dapat menciptakan nilai tambah dari pariwisata. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dalam bahan paparan Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bahwa Ecotourism akan menjadi trend di masa depan. Untuk itu, Iman menambahkan diharapkan baik masyarakat khususnya di Lanskap Ekowisata maupun dari dinas-dinas terkait bisa memanfaatkan secara maksimal kehadiran tenaga ahli Ekowisata, M. Nurdin Razak, untuk bertukar pikiran dan bersama-sama mewujudkan Ekowisata di Kabupaten Lebak.

Kamis, 12 Desember 2019

Bappeda Lebak Tuntaskan Kajian Geoheritage Geopark Bayah Dome Bersama Puslit GKG Unpad

Kepala Puslit GKG Unpad, Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D, sedang memaparkan hasil kajian timnya

Rangkasbitung – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak menggelar rapat pembahasan draf laporan akhir Kajian Warisan Geologi (Geoheritage) Geopark Bayah Dome di Aula Bappeda Kabupaten Lebak, Selasa (10/12). Turut hadir Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, dan narasumber dari Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), DR. Ir. Sugeng Santoso, M.T, serta Prof. Ir. Mega Fatima Rosana, M.Sc., Ph.D selaku ketua Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi (Puslit GKG) Universitas Padjajaran.

Dalam kesempatan ini, Bupati Lebak menyampaikan bahwa tahun 2019 hingga 2024 merupakan arah baru bagi Kabupaten Lebak untuk menggali potensi pariwisata namun tidak merusak lingkungan. Salah satu perwujudan visi Bupati yaitu Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal melalui pengembangan Geopark Bayah Dome ini yang ditargetkan akan menjadi Geopark Nasional. “Dengan adanya pengembangan Geopark ini, diharapkan bisa memberdayakan masyarakat dan menciptakan lapangan pekerjaan yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat,” ungkap Iti.

Senada dengan Bupati Lebak, Ketua Puslit GKG dalam paparannya juga menjelaskan bahwa moto pengembangan Geopark yaitu Alamnya Lestari, Masyarakatnya Sejahtera. “Konsep pengembangan Geopark merupakan paradigma baru pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan yang tujuannya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan,” jelas Mega. Beliau menambahkan bahwa melalui pengembangan Geopark berarti pemerintah daerah sudah menjalankan 11 dari 17 program di dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Selanjutnya narasumber dari Kemenkomarves menerangkan bahwa dengan mengembangkan Geopark, maka akan dihasilkan rantai nilai dan nilai tambah. “Kebermanfaatan pengembangan Geopark untuk masyarakat Kabupaten Lebak dapat terlihat dari 2 (dua) perspektif outcome impact meliputi Geowisata dan Ekonomi Regional Berkelanjutan,” kata Sugeng.

Kepastian tema yang dipilih dalam pengembangan Geopark di Kabupaten Lebak yaitu Bayah Dome dan meliputi 12 kecamatan. Tahap selanjutnya akan diajukan pengusulan penetapan Geoheritage ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan juga penyusunan rencana induk Geopark.

Kamis, 05 Desember 2019

Pemkab Lebak Dorong Pengembangan Ekowisata di Empat Lanskap

Suasana Rapat Koordinasi Pengembangan Ekowisata di Aula Bappeda Kabupaten Lebak, Selasa (3/12)

Rangkasbitung – Lanskap Citorek, Guradog, Baduy, dan Cibarani akan didorong oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak untuk pengembangan Ekowisata. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mewujudkan visi Bupati yaitu Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal. 

“Melalui rapat koordinasi ini, mari kita komunikasikan dan koordinasikan bersama demi mewujudkan visi Bupati Lebak. Apalagi berdasarkan arah kebijakan RPJMD Kabupaten Lebak Tahun 2019-2024, bahwa tahun ini merupakan landasan atau tahap penguatan komitmen untuk membangun kesepahaman dan konsepsi bagi seluruh stakeholder termasuk para pelaku pariwisata di Kabupaten Lebak,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak, Hj. Virgojanti, sembari membuka rapat di Aula Bappeda, Selasa (3/12).

Pada rapat ini, M. Nurdin Razak, selaku tenaga ahli Ekowisata dari Bappeda Kabupaten Lebak mempresentasikan hasil kajian yang telah dilakukan. “Kedekatan Jakarta sebagai enclave wisatawan baik nusantara maupun mancanegara sebenarnya menjadi peluang besar untuk menarik kunjungan,” tutur Nurdin.  Menurutnya pasar yang dibidik bisa dari berbagai segmen mengingat potensi alam dan juga budaya Lebak dengan Suku Baduy-nya serta lanskapnya menjadi ikon yang bisa ditonjolkan. Berdasarkan hasil kajian, didapatkan 11 rekomendasi sebagai dasar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Lebak untuk menyusun rencana aksi yang bersifat implementatif.

Untuk tahap awal, Lanskap Citorek melalui Citorek Timur dan Citorek Sabrang, dan Lanskap Baduy melalui Lembah Barokah, Nayagati, dan Bojongmenteng akan menjadi mercusuar bagi pengembangan Ekowisata di Kabupaten Lebak. Nantinya keempat lanskap yang terdiri dari 12 desa ini diharapkan dapat menjadi calon model pengembangan desa-desa lainnya di Kabupaten Lebak.

Rabu, 09 Oktober 2019

Delta Purba, Tema yang Dipilih untuk Pengembangan Geopark Nasional di Kabupaten Lebak

Para narasumber dalam FGD Pengembangan Geopark Nasional di Kabupaten Lebak, Senin (7/10)

Lebak – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak kembali mengadakan Focus Group Discussion (FGD) di Aula Bappeda, Senin (7/10). Kali ini, FGD yang diselenggarakan terkait tahapan awal yang harus dilakukan oleh Kabupaten Lebak dalam mengembangkan taman bumi atau Geopark yaitu melakukan kajian warisan geologi (Geoheritage). 

Adapun dalam melakukan kajian warisan geologi, Pemerintah Kabupaten Lebak menggandeng Pusat Riset GKG-UNPAD. Kepala Bappeda, Hj. Virgojanti, saat membuka FGD menuturkan alasan dipilihnya lembaga tersebut. "Dikarenakan Pemerintah Kabupaten Lebak telah memiliki MoU dengan Rektor UNPAD sehingga atas dasar hal tersebut, kami menindaklanjuti perjanjian kerjasamanya (PKS) antara Bappeda dengan Dekan Fakultas Teknik Geologi UNPAD." tutur Virgo. Tidak hanya itu, Kepala Bappeda menambahkan bahwa dikarenakan UNPAD sudah memiliki badan khusus penelitian Geopark, sehingga dirasa lembaga tersebut tepat dipilih untuk membantu pengembangan Geopark di Kabupaten Lebak. Bahkan. lembaga ini juga telah berpengalaman dalam menginisiasi Geopark Ciletuh menjadi Unesco Global Geopark (UGG).

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Provinsi Banten, Deri Dariawan, selaku salah satu narasumber saat di awal paparannya menjelaskan bahwa berbicara Geopark merupakan perencanaan yang bersifat bottom up, sehingga keberhasilan ditentukan dari para stakeholder. Dalam paparannya dijabarkan pula bahwa Geopark Bayah telah masuk dalam potensi Geopark di Banten sehingga saat ini pihak Provinsi Banten melalui Dinas ESDM sudah melakukan inventarisasi keragaman geologi di beberapa kecamatan di Kabupaten Lebak. Dari hasil inventarisasi tersebut dapat dipetakan lokasi situs Geopark yang berjumlah 43 objek dan membentuk delineasi tersendiri dengan batas kecamatan. Tim GKG-UNPAD juga sependapat mengenai pengembangan Geopark harus menggunakan konsep pentahelix yang ujungnya yaitu pembangunan berkelanjutan. Nantinya untuk metode analisa yang digunakan oleh GKG-UNPAD akan memakai metode penilaian Geosite menurut Kubalikoya (2013) dan menurut Pusat Survei Geologi (2017).

Perihal pengembangan Geopark di Kabupaen Lebak, Ir. Yunus Kusumahbrata, M.Sc., Ph.D., selaku Ketua Tim Persiapan Pengembangan Geopark dari Kementerian Pariwisata yang juga menjadi narasumber dalam FGD ini menjabarkan bahwa kebetulan tesisnya fokus di Bayah sehingga masih terdapat evidence-evidence yang dapat digunakan sebagai referensi. Dalam penjabarannya, beliau memberikan saran beberapa tema berdasarkan kompilasi desk work study literature. Yang mana salah satunya disepakati oleh para stakeholder yang hadir dalam FGD untuk menjadi tema pengembangan Geopark Nasional di Kabupaten Lebak yaitu "Rekonstruksi Kehadiran Delta Purba berumur 45 juta tahun di Pantai Bayah". Salah satu pertimbangan dipilihnya tema tersebut dikarenakan butuh tema yang unik dan tidak dimiliki daerah lain serta terdapat tulisan-tulisan yang berkaitan dalam jurnal nasional bahkan internasional. Adapun untuk delineasi sementara menggunakan data inventarisir dari Dinas ESDM Provinsi Banten.

Selasa, 21 Mei 2019

Festival Seni Multatuli 2019 Akan Digelar Seminggu Penuh


Kepala Museum Multatuli, Ubaidilah Muchtar, saat sedang menjabarkan konsep acara FSM 2019.

Lebak – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lebak melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan kembali menggelar Festival Seni Multatuli (FSM) pada tahun ini, yang berlangsung selama satu minggu dimulai dari tanggal 9-15 September 2019. Rapat persiapan FSM 2019 ini turut dihadiri oleh Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, yang berlangsung di Aula Terbatas, Sekretariat Daerah (21/5).

Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui platform Indonesiana, FSM merupakan ikhtiar yang digagas oleh Pemda Kabupaten Lebak dalam rangka membuka ruang interaksi kreatif antarbudaya. FSM pada tahun ini akan mengangkat tema “Kopi dan Seni”. Yang mana terdapat beberapa rangkaian acara, diawali Pembukaan dan Konser Akustik dengan pengisi acara KPJ Rangkasbitung feat Fourtwnty, lalu kemudian ditutup dengan acara Karnaval Menyusuri Jejak Multatuli dan Konser Musik Tradisi. “Pada tahun ini, lokasi tiap-tiap acara akan diperlebar dari FSM sebelumnya.” tutur Ubai, selaku Kepala Museum Multatuli.

Dalam rapat persiapan ini, salah satu agenda pembahasan ialah mengevaluasi FSM tahun sebelumnya. Salah satu masukan yang penting yaitu ditambahkannya unsur kemajuan budaya dalam fokus program pemerintah. Sebab FSM yang menjadi event tahunan ini dapat membekas tidak hanya seremoninya akan tetapi lebih ke literasi transfer knowledge atau keilmuan terkait budaya yang dan seni yang akan di angkat dan ditampilkan. Selanjutnya membahas kegiatan tahun lalu, FSM yang dilaksanakan pada tahun 2018 berlangsung sukses dan mendapat predikat nilai baik sehingga diharapkan ke depannya, penyelenggaraan acara ini bisa mandiri tanpa bantuan langsung dari pihak Indonesiana. Bahkan Koordinator Kurator Festival Indonesiana, Heru Hikayat, menambahkan bahwa FSM ini bisa menjadi role model untuk kabupaten lainnya. Oleh karena itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Wawan Ruswandi, meminta seluruh unsur terkait senantiasa membantu suksesnya acara FSM pada tahun ini. 

Menurut Bupati Lebak, dengan diadakanya FSM ini sebagai bentuk keseriusan Pemda Kabupaten Lebak dalam mewujudkan visinya yaitu menjadikan Kabupaten Lebak sebagai destinasi wisata unggulan nasional berbasis potensi lokal. “Ini festival yang ditunggu-tunggu oleh komunitas-komunitas seni budaya dan Alhamdulillah semoga kita dapat memberikan ruang kepada para penggiat seni dan budaya,” kata Iti, dikutip dari Banten News. Beberapa pertunjukkan seni budaya seperti Pesta Patok, Karnaval Kerbau, Festival Kesenian Tradisi, dan Pameran Seni Rupa serta kreasi seni musik dari komunitas-komunitas di Kabupaten Lebak turut disajikan dalam FSM tahun ini.

Puluhan Pegawai Bappeda Lebak Antusias Ikuti Nobar Film AMBU


Foto Bersama Sebelum Nonton Bareng Film AMBU di 21 Lippo Karawaci, Jumat (17/5)

Tangerang – Puluhan pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak antusias mengikuti nonton bareng (nobar) film AMBU sekaligus buka puasa bersama di Supermall Lippo Karawaci, Kabupaten Tangerang, Jumat (17/05). Nobar ini juga dihadiri oleh Kepala Bappeda, Hj, Virgojanti, dan juga Sekretaris Daerah, Dede Jaelani.

Film AMBU merupakan film dengan latar belakang budaya suku Baduy yang begitu kuat dan tak jarang keindahan alam Baduy pun ikut disajikan. Ada beberapa adegan yang mengambil latar di objek wisata potensial yang dimiliki Kabupaten Lebak, diantaranya Wisata Budaya Baduy itu sendiri dan juga Pantai Sawarna serta Alun-Alun Rangkasbitung. Bahkan Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, ikut ambil peran dalam film tersebut meskipun hanya beberapa menit saja. 

Melalui film AMBU ini tentu diharapkan masyarakat Indonesia lebih mengenal suku Baduy, suku dari Indonesia yang hidup secara tradisional dan menyatu dengan alam. Pada tahun 2017, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Suku Baduy menjadi warisan budaya tak benda yang diakui oleh negara. “Wisata Baduy bukan hanya aset budaya Indonesia, tapi juga aset internasional. Warga Baduy terus memegang teguh prinsip adat budayanya untuk melestarikan alam dan mematuhi aturan.” tutur Bupati Lebak saat menghadiri jumpa pers film AMBU, dikutip dari Warta Kota.

Seusai film diputar, tak sedikit yang tersedu-sedu sambil mengeluarkan air mata saat menonton film ini terutama kaum wanita. Hal tersebut tak dipungkiri, sebab film ini mengangkat konflik keluarga khususnya sosok seorang Ambu atau Ibu yang membuat penonton terbawa suasana. Namun, suasana haru tersebut setelah menonton film berubah menjadi canda tawa sesaat adzan Maghrib berkumandang. Momen buka puasa bersama kali ini terasa hangat, setidaknya hal tersebut bisa memupuk kebersamaan dan menjalin kekompakan antar pegawai sehingga semakin meningkatkan produktivitas kerja Bappeda Kabupaten Lebak.

Senin, 20 Mei 2019

Wisata Budaya Baduy, Eksistensi Kampung Adat Tradisional di Zaman Modern

Keunikan Wisata Budaya Baduy, Foto: Septian Deni Saputro

Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keanekaragaman budaya dan juga suku bangsanya. Salah satu suku yang dimiliki Indonesia dengan keunikannya hingga dikenal dunia yaitu Suku Baduy. Suku Baduy adalah salah satu suku yang masih menjaga tradisi dari nenek moyang sehingga sampai saat ini masih hidup secara tradisional dan bersahabat dengan alam. Dengan keunikannya tersebut, potensi untuk menarik wisatawan nusantara bahkan mancenagara telah dioptimalkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak sebagai salah satu Six Fantastix atau Destinasi Wisata Unggulan Kabupaten Lebak.

Wisata Budaya Baduy terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Jarak menuju destinasi wisata tersebut dari Rangkasbitung sekitar 40 km atau kurang lebih 1 (satu) jam bila menggunakan kendaraan pribadi. Kondisi jalan menuju destinasi wisata tersebut terbilang sudah sangat baik sehingga dapat dikatakan mudah diakses. Transportasi umum pun tersedia bilamana wisatawan tidak membawa kendaraan pribadi dan langsung berhenti di pemberhentian akhir yaitu Terminal Ciboleger.

Suku Baduy terdiri dari 2 (dua) macam yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar, yang mana cara membedakannya terlihat dari penampilannya. Secara penampilan, suku Baduy dalam memakai baju dan ikat kepala serba putih. Sedangkan suku Baduy luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru. Wisata Budaya Baduy menawarkan keasrian alam yang masih terjaga dan bisa mengenal lebih jauh tentang suku Baduy yang masih sangat tradisional. Suku Baduy hidup secara sederhana dan menyatu dengan alam. Oleh karena itu, pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Suku Baduy menjadi warisan budaya tak benda yang diakui oleh negara.

Untuk mengenal lebih jauh tentang Wisata Budaya Baduy dapat langsung berkunjung kesana atau bisa juga dengan menonton film Ambu yang sudah tayang di bioskop-bioskop Indonesia terhitung bulan Mei, 2019. Film ini mengangkat tentang konflik keluarga dari tanah Baduy dengan latar belakang budaya yang begitu kuat. Dari keseluruhan film, mayoritas jalan cerita mengambil latar di Suku Baduy sehingga secara tidak langsung kita akan mengetahui bagaimana budaya dan tradisi di Suku Baduy hingga suasananya yang masih tradisional serta tak jarang eksotisme alamnya membuat penonton berdecak kagum. Melihat eksistensi kampung adat di tengah derasnya arus globalisasi saat ini, sebagai warga negara Indonesia (WNI) patut berbangga dan bersemangat memperkenalkan warisan budaya bangsa ini hingga berkomitmen untuk mejaga kelestariannya.

Selasa, 14 Mei 2019

Pantai Sawarna, Surga Tersembunyi di Banten Selatan


Pesona Pantai Sawarna Tampak Atas, Foto: Septian Deni Saputro

Lebak adalah sebuah kabupaten yang memiliki banyak keindahan alam yang luar biasa dan berpotensi untuk dijadikan sebagai destinasi wisata. Khususnya di wilayah selatan, banyak sekali pantai-pantai nan indah yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi tujuan berlibur. Dari sekian banyak pantai yang ada, terdapat salah satu pantai yang memiliki keindahan luar biasa yaitu Pantai Sawarna. Apalagi dengan gencarnya pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, semakin meningkatkan aksesibilitas menuju destinasi-destinasi wisata yang ada, salah satunya Pantai Sawarna itu sendiri. 

Pantai Sawarna merupakan salah satu dari 174 destinasi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Lebak. Wisata alam ini masuk dalam destinasi unggulan atau six fantastix yang dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Lebak. Bahkan pantai yang berada di selatan Banten ini menjadi objek wisata potensial yang akan didorong menjadi unggulan nasional bersama dengan wisata budaya Baduy. Hal ini didasarkan pada objek wisata di Kabupaten Lebak yang memiliki pengunjung terbanyak tiap tahunnya yaitu Pantai Sawarna dengan jumlah 296.631 jiwa pada tahun 2017 (BPS Kabupaten Lebak, 2018).

Berdasarkan visi misi Bupati Lebak yang tertuang dalam RPJMD Tahun 2019-2024, Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal. Maka bukan tidak mungkin, Pantai Sawarna yang sudah sebegitu indah akan sangat lebih indah lagi dan layak dikunjungi dari yang ada saat ini. Dapat terlihat berbagai prasarana umum, fasilitas umum, dan fasilitas pariwisata sudah mulai berdiri kokoh dan bisa digunakan oleh para pengunjung. Mulai dari akses menuju Pantai Sawarna hingga di dalam Pantai Sawarna itu sendiri. Meskipun memang belum menyeluruh, namun sudah terlihat bentuk keseriusan pemerintah dalam membenahi Pantai Sawarna menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berdaya saing serta layak dikunjungi.

Meskipun memang masih perlu beberapa hal yang harus dibenahi dalam konsep besar pengembangan pariwisata Pantai Sawarna. Salah satunya penyediaan angkutan jalan sembari menerapkan konsep park and ride berpeluang untuk diterapkan, melihat kondisi geografis dan kondisi saat ini. Pembangunan sarana prasarana dasar maupun pariwisata juga harus segera dikebut agar segala kebutuhan pengunjung dapat terakomodir. Tak lupa juga peningkatan kualitas sumber daya manusia baik dari sektor usaha maupun keterlibatan dalam pengelolaan wisatanya. Mau tidak mau, masyarakat harus siap menjadi masyarakat sadar wisata yang bisa menerapkan sapta pesona agar para pengunjung merasa aman dan nyaman serta indeks kepuasan terhadap pengunjung nantinya mendapatkan nilai yang baik. Hal tersebut jika telah terealisasi, bukan tidak mungkin pembangunan ekonomi daerah dapat terwujud dan juga berimplikasi terhadap kesejahteraan masyarakat.

Selasa, 07 Mei 2019

Seba Baduy 2019, Gali Potensi Tradisi Hidupkan Gairah Wisata

Acara Inti Seba Baduy 2019, Sabtu (4/5), di Pendopo Bupati Lebak, Banten. Dialog budaya antara Baduy Dalam, Baduy Luar, dan para Panggede atau Pejabat Kabupaten Lebak.

Lebak – Seluruh rangkaian Seba Baduy 2019 telah selesai dilaksanakan dengan berbagai kegiatan seni budaya dan pameran yang menampilkan produk kreatif asli Lebak serta kegiatan meriah lainnya. Acara tersebut berlangsung selama tujuh hari terhitung dari tanggal 29 April hingga 5 Mei yang bertempat di sekitaran Alun-Alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Acara yang masuk dalam 100 Calendar of Events 2019 Kementerian Pariwisata ini, berhasil menarik antusiasme masyarakat lokal hingga luar daerah, bahkan terdapat beberapa wisatawan mancanegara yang ikut memeriahkan acara ini khususnya saat prosesi utama upacara Seba Baduy pada hari Sabtu, 4 Mei 2019. Acara ini sendiri pertama kali diadakan pada tahun 2013.


Dalam Bahasa Baduy “Seba” berarti seserahan, sehingga makna dari Seba Baduy itu sendiri adalah ritual seserahan hasil bumi serta melaporkan berbagai kejadian yang telah berlangsung setahun terakhir di Suku Baduy kepada Ibu Gede dan Bapak Gede, yakni Bupati Lebak Iti Hj. Octavia Jayabaya dan Gubernur Banten H. Wahidin Halim. Inilah ungkapan rasa syukur masyarakat Baduy atas hasil panen yang telah mereka tuai dan keinginan untuk berbagi dengan sesama. Selain memberikan seserahan berupa hasil tani, dalam ritual ini juga terjadi dialog budaya antara masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar yang menitipkan pesan kepada para panggede atau pihak Pemerintah untuk menjaga kelestarian alam, hutan, dan lingkungan. Bupati Lebak dalam sambutan penerimaannya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Baduy yang tetap memegang teguh tradisi dalam menjaga dan melestarikan alam serta memohon dukungan dari masyarakat Baduy untuk bersama-sama membangun Kabupaten Lebak.

Acara Seba Baduy 2019 yang diikuti 1.035 jiwa warga Baduy, termasuk 13 jiwa warga Baduy Dalam ini merupakan salah satu dari sekian banyak event wisata di Kabupaten Lebak yang telah disiapkan guna mendukung visi misi Bupati Lebak yaitu Kabupaten Lebak sebagai destinasi wisata unggulan nasional berbasis potensi lokal. Dikutip dari Banten News, Asisten Daerah (Asda) III Kabupaten Lebak, Dedi Lukman Indepur yang hadir mewakili Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, dalam sambutannya saat membuka rangkaian acara Seba Baduy 2019, mengimbau kepada seluruh elemen pemerintah dan masyarakat agar mewacanakan acara Seba Baduy ini sebagai ikhtiar bersama untuk meningkatkan minat kunjungan wisatawan dalam menyaksikan acara adat masyarakat Baduy yang diadakan setahun sekali. 

Melihat antusiasme masyarakat terhadap salah satu event wisata ini, diharapkan dapat menular juga kepada wisata-wisata lainnya di Kabupaten Lebak. Hal tersebut tentunya akan berdampak terhadap pembangunan ekonomi daerah khususnya masyarakat yang berada di sekitar kawasan wisata tersebut. Penguatan sektor wisata ini juga dalam rangka peningkatan capaian kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Lebak. Itu semua merupakan pekerjaan rumah bersama antara pemerintah dan juga masyarakat, seperti yang pernah diutarakan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak, Dede Jaelani, saat Konsultasi Publik yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak bahwa seluruh elemen masyarakat harus bekerja maksimal dan optimis bahwa pariwisata akan menjadi lokomotif pendongkrak sektor ekonomi di Kabupaten Lebak.