Tampilkan postingan dengan label Planner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Planner. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2019

Pantai Sawarna, Surga Tersembunyi di Banten Selatan


Pesona Pantai Sawarna Tampak Atas, Foto: Septian Deni Saputro

Lebak adalah sebuah kabupaten yang memiliki banyak keindahan alam yang luar biasa dan berpotensi untuk dijadikan sebagai destinasi wisata. Khususnya di wilayah selatan, banyak sekali pantai-pantai nan indah yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi tujuan berlibur. Dari sekian banyak pantai yang ada, terdapat salah satu pantai yang memiliki keindahan luar biasa yaitu Pantai Sawarna. Apalagi dengan gencarnya pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, semakin meningkatkan aksesibilitas menuju destinasi-destinasi wisata yang ada, salah satunya Pantai Sawarna itu sendiri. 

Pantai Sawarna merupakan salah satu dari 174 destinasi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Lebak. Wisata alam ini masuk dalam destinasi unggulan atau six fantastix yang dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Lebak. Bahkan pantai yang berada di selatan Banten ini menjadi objek wisata potensial yang akan didorong menjadi unggulan nasional bersama dengan wisata budaya Baduy. Hal ini didasarkan pada objek wisata di Kabupaten Lebak yang memiliki pengunjung terbanyak tiap tahunnya yaitu Pantai Sawarna dengan jumlah 296.631 jiwa pada tahun 2017 (BPS Kabupaten Lebak, 2018).

Berdasarkan visi misi Bupati Lebak yang tertuang dalam RPJMD Tahun 2019-2024, Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal. Maka bukan tidak mungkin, Pantai Sawarna yang sudah sebegitu indah akan sangat lebih indah lagi dan layak dikunjungi dari yang ada saat ini. Dapat terlihat berbagai prasarana umum, fasilitas umum, dan fasilitas pariwisata sudah mulai berdiri kokoh dan bisa digunakan oleh para pengunjung. Mulai dari akses menuju Pantai Sawarna hingga di dalam Pantai Sawarna itu sendiri. Meskipun memang belum menyeluruh, namun sudah terlihat bentuk keseriusan pemerintah dalam membenahi Pantai Sawarna menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berdaya saing serta layak dikunjungi.

Meskipun memang masih perlu beberapa hal yang harus dibenahi dalam konsep besar pengembangan pariwisata Pantai Sawarna. Salah satunya penyediaan angkutan jalan sembari menerapkan konsep park and ride berpeluang untuk diterapkan, melihat kondisi geografis dan kondisi saat ini. Pembangunan sarana prasarana dasar maupun pariwisata juga harus segera dikebut agar segala kebutuhan pengunjung dapat terakomodir. Tak lupa juga peningkatan kualitas sumber daya manusia baik dari sektor usaha maupun keterlibatan dalam pengelolaan wisatanya. Mau tidak mau, masyarakat harus siap menjadi masyarakat sadar wisata yang bisa menerapkan sapta pesona agar para pengunjung merasa aman dan nyaman serta indeks kepuasan terhadap pengunjung nantinya mendapatkan nilai yang baik. Hal tersebut jika telah terealisasi, bukan tidak mungkin pembangunan ekonomi daerah dapat terwujud dan juga berimplikasi terhadap kesejahteraan masyarakat.

Kamis, 13 Juli 2017

PWK-ITI Goes To Jakarta Smart City

Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Institut TeknologiIndonesia mengikuti kegiatan ekskursi ke Jakarta Smart City. Kunjungan ini merupakan kali pertamanya bagi mahasiswa PWK-ITI dalam melihat langsung penerapan konsep smart city pada suatu kota. Smart City merupakan sebuah konsep kota cerdas yang dapat membantu masyarakat mengelola sumber daya yang ada dengan efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat atau lembaga dalam melakukan kegiatannya atau pun mengantisipasi kejadian dengan efisien. Menurut Bapak Oswar Muadzin Mungkasa selaku Deputi Gubernur Bidang Tata Ruangdan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, konsep smart city merupakan keseluruhan sistem menggunakan teknologi untuk mengelola kota,  tidak hanya itu beliau juga mengatakan bahwa smart city tidak hanya berbicara mengenai teknologinya saja melainkan cara dimana manusia dapat berinteraksi dengan media teknologi yang ada untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.










Keunggulan Jakarta Smart city antara lain adalah mampu menghadirkan data yang mencakup kebutuhan masyarakat sehari-hari, dengan kata lain kehadirannya mampu memudahkan masyarakat mengetahui informasi dengan cepat seperti informasi mengenai kemacetan, harga bahan pangan, lokasi kuliner yang ada di Jakarta, data untuk penelitian, informasi rumah sakit terdekat dan jumlah kamar yang tersedia, serta berbagai macam informasi yang bisa diakses secara live karena terkoneksi dengan 10.000 CCTV yang tersebar diseluruh penjuru Kota Jakarta.

Tidak hanya itu Jakarta Smart City juga memiliki kanal pengaduan yaitu konten dimana masyarakat mampu menyampaikan keluhannya ataupun masalah mengenai daerah tempat tinggalnya yang nantinya akan diteruskan kepada lurah setempat. Kemudahan lainnya adalah masyarakat bisa mengaksesnya kapanpun dan dimana saja melalui komputer dan telepon pintarnya.

Sejak diresmikan pada 15 Desember 2014, tercatat saat ini sudah ada 3.000 data yang dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja dan dimana saja. Jakarta Smart city juga bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan programnya.

Sabtu, 19 November 2016

CALON KETUA HIMPUNAN MAHASISWA PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA PERIODE 2016-2017

Assalamualaikum, kenalkan nama saya Yogan Daru Prabowo. Saya seorang mahasiswa yang berkuliah di Institut Teknologi Indonesia jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota atau Teknik Planologi. Saya angkatan 2014 dengan NRP 1231400018. Saat ini saya mengemban tanggung jawab sebagai ketua angkatan 2014.

Saat ini saya merupakan anggota dari Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota - Institut Teknologi Indonesia. Saya sudah melalui tahap kaderisasi yang ada diantaranya LDO dan OBP. Banyak ilmu yang saya dapat dari tahap pengkaderan tersebut dan ingin saya aplikasikan terhadap himpunan serta bagikan juga kepada adik-adik saya selanjutnya. Saat ini saya akan menginjak pada tahap pengaplikasian pengkaderan yaitu bersiap untuk menjadi pengurus himpunan.

Senin, 31 Oktober 2016

Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Indonesia

A. Profil
Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota – InstitutTeknologi Indonesia atau biasa disingkat HMPWK-ITI. HMPWK-ITI berkedudukan di Institut Teknologi Indonesia, Jl. Raya Puspiptek, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. HMPWK-ITI didirikan pada tanggal 23 Desember 1984. Organisasi ini berazaskan keadilan, kemanusiaan, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Organisasi ini bersifat kemahasiswaan, kekeluargaan dan kebersamaan. Organisasi ini memiliki tujuan menghimpun seluruh aspirasi mahasiswa PWK-ITI untuk bersama-sama memajukan HMPWK-ITI. Setiap anggota organisasi ini harus berusaha ikut serta menyumbangkan karya dan pemikiran dalam kegiatan HMPWK-ITI dan membuat kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang melibatkan seluruh anggota HMPWK-ITI. Organisasi ini berfungsi sebagai wadah belajar mahasiswa PWK-ITI untuk pengembangan diri dalam berorganisasi, akademis, dan lingkungan masyarakat serta berperan sebagai organisasi kemahasiswaan dan perguruan tinggi.

Selasa, 25 Oktober 2016

Menggali produk rencana berbasis sosial-ekonomi (Desa Wisata Bedono dengan Konsep CBT)

A.  Pendahuluan
Pada awalnya, sesuai dengan sejarah perencanaan pembangunan, di mana ada konsep pengembangan wilayah yang dilaksanakan secara development from above, development from below dan selective spatial closure, agropolitan tidak memberikan hasil yang diinginkan dan sulit diimplementasikan, maka lahirlah konsep local economic development.

Konsep pengembangan ekonomi lokal berusaha memadukan konsep-konsep tersebut, dengan mengembangkan dan meningkatkan peran elemen-elemen endogenous development dalam kehidupan sosial ekonomi lokal dan melihat keterkaitan serta integrasinya secara fungsional dan spasial dengan wilayah yang lebih luas (Ma’rif : 2000).

Teori Pengembangan Ekonomi Lokal pada intinya mengemukakan bagaimana mengembangkan perekonomian lokal dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki, sejauh mana industri tersebut menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat dan menumbuhkan perekonomian lokal serta bagaimana keberlanjutannya pada masa yang akan datang. Menurut Coffey and Polase dalam Blair (1985) proses berkembangnya perekonomian lokal pada dasarnya meliputi empat tahap : pertama, tumbuhnya kewiraswastaan (entrepreneurship) lokal ; kedua, lepas landasnya (take off) perusahaan-perusahaan lokal ; ketiga, berkembangnya perusahaan-perusahaan tersebut keluar lokalitas, dan keempat, terbentuknya suatu perekonomian wilayah yang mengakar pada kegiatan dan inisiatif lokal serta keunggulan-keunggulan komparatif aktifitas ekonomi lokal tersebut.




Desa Bedono merupakan salah satu desa di wilayah pesisir Kabupaten Demak yang memiliki potensi wisata mangrove dan wisata religi, dengan adanya komunitas mangrove bahari dan komunitas nelayan Monosari yang sangat potensial dalam pengembangan berbasis masyarakat. Community Based Tourism merupakan konsep untuk mengelola dan mengembangkan daerahnya sendiri untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan keberlanjutan kebudayaan lokal dan sumberdaya alam. Konsep CBT juga merupakan implementasi ekonomi kerakyatan di sektor riil, yang langsung dilaksankan dan dinikmati oleh masyarakat sendiri.