Tampilkan postingan dengan label Tourism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tourism. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2019

Eksotisme Pantai Klayar Andalan Pariwisata Kabupaten Pacitan

Pesona Wisata Pantai Klayar, Foto: Yogan Daru Prabowo

Pulau Jawa bagian selatan tak dipungkiri menyimpan banyak keindahan alam yang dapat dinikmati banyak orang, salah satunya yaitu wisata bahari. Kabupaten Pacitan adalah salah satu daerah yang berada di selatan Pulau Jawa tepatnya di Provinsi Jawa Timur. Daerah yang dijuluki kota 1001 goa ini, juga memiliki wisata lain selain goa yang tak kalah indah yaitu pantainya. Salah satu wisata pantai yang menjadi andalan pariwisata di Kabupaten Pacitan bernama Pantai Klayar.

Pantai yang terletak di Desa Sendang, Kecamatan Donorojo ini, masih menjadi andalan Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam mendatangkan wisatawan. Tercatat selama tahun 2018, jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Klayar sebanyak 1,7 juta wisatawan. Hal tersebut diutarakan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Endang Surjari, saat berbincang Suara Pacitan FM, dikutip dari Pacitanku.com. Tingginya jumlah kunjungan disinyalir sebagai dampak pembangunan fasilitas yang terus bertambah dan juga peningkatan aksesibilitas yang terus digenjot oleh pemerintah.

Wisata yang berjarak sekitar 22 km dari Alun-Alun Kabupaten Pacitan ini memiliki beragam keunikan yang ditawarkan. Keunikan dari Pantai Klayar adalah adanya batu karang besar yang membelah bibir pantai, sehingga jika ombak sedang pasang, sela-sela batu karang akan menciptakan air mancur yang indah. Selain itu, Pantai Klayar memiliki saluran air tawar yang berasal dari sungai sisi pantai dan langsung mengalir ke laut. Namun sangat disayangkan bila berkunjung ke pantai ini, tidak diperbolehkan untuk berenang dikarenakan ombaknya yang cukup besar khas pantai selatan dan juga permukaan bibir pantai yang tidak rata alias berkarang. Jadi saat berkunjung ke pantai ini, kita hanya dapat menikmati pesona kecantikan Pantai Klayar dari pinggir pantai dan sesekali bisa ber-selfie dengan latar deburan ombak besar khas pantai selatan.yang menabrak batu karang. 

Selasa, 14 Mei 2019

Pantai Sawarna, Surga Tersembunyi di Banten Selatan


Pesona Pantai Sawarna Tampak Atas, Foto: Septian Deni Saputro

Lebak adalah sebuah kabupaten yang memiliki banyak keindahan alam yang luar biasa dan berpotensi untuk dijadikan sebagai destinasi wisata. Khususnya di wilayah selatan, banyak sekali pantai-pantai nan indah yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi tujuan berlibur. Dari sekian banyak pantai yang ada, terdapat salah satu pantai yang memiliki keindahan luar biasa yaitu Pantai Sawarna. Apalagi dengan gencarnya pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, semakin meningkatkan aksesibilitas menuju destinasi-destinasi wisata yang ada, salah satunya Pantai Sawarna itu sendiri. 

Pantai Sawarna merupakan salah satu dari 174 destinasi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Lebak. Wisata alam ini masuk dalam destinasi unggulan atau six fantastix yang dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Lebak. Bahkan pantai yang berada di selatan Banten ini menjadi objek wisata potensial yang akan didorong menjadi unggulan nasional bersama dengan wisata budaya Baduy. Hal ini didasarkan pada objek wisata di Kabupaten Lebak yang memiliki pengunjung terbanyak tiap tahunnya yaitu Pantai Sawarna dengan jumlah 296.631 jiwa pada tahun 2017 (BPS Kabupaten Lebak, 2018).

Berdasarkan visi misi Bupati Lebak yang tertuang dalam RPJMD Tahun 2019-2024, Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal. Maka bukan tidak mungkin, Pantai Sawarna yang sudah sebegitu indah akan sangat lebih indah lagi dan layak dikunjungi dari yang ada saat ini. Dapat terlihat berbagai prasarana umum, fasilitas umum, dan fasilitas pariwisata sudah mulai berdiri kokoh dan bisa digunakan oleh para pengunjung. Mulai dari akses menuju Pantai Sawarna hingga di dalam Pantai Sawarna itu sendiri. Meskipun memang belum menyeluruh, namun sudah terlihat bentuk keseriusan pemerintah dalam membenahi Pantai Sawarna menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berdaya saing serta layak dikunjungi.

Meskipun memang masih perlu beberapa hal yang harus dibenahi dalam konsep besar pengembangan pariwisata Pantai Sawarna. Salah satunya penyediaan angkutan jalan sembari menerapkan konsep park and ride berpeluang untuk diterapkan, melihat kondisi geografis dan kondisi saat ini. Pembangunan sarana prasarana dasar maupun pariwisata juga harus segera dikebut agar segala kebutuhan pengunjung dapat terakomodir. Tak lupa juga peningkatan kualitas sumber daya manusia baik dari sektor usaha maupun keterlibatan dalam pengelolaan wisatanya. Mau tidak mau, masyarakat harus siap menjadi masyarakat sadar wisata yang bisa menerapkan sapta pesona agar para pengunjung merasa aman dan nyaman serta indeks kepuasan terhadap pengunjung nantinya mendapatkan nilai yang baik. Hal tersebut jika telah terealisasi, bukan tidak mungkin pembangunan ekonomi daerah dapat terwujud dan juga berimplikasi terhadap kesejahteraan masyarakat.

Selasa, 07 Mei 2019

Seba Baduy 2019, Gali Potensi Tradisi Hidupkan Gairah Wisata

Acara Inti Seba Baduy 2019, Sabtu (4/5), di Pendopo Bupati Lebak, Banten. Dialog budaya antara Baduy Dalam, Baduy Luar, dan para Panggede atau Pejabat Kabupaten Lebak.

Lebak – Seluruh rangkaian Seba Baduy 2019 telah selesai dilaksanakan dengan berbagai kegiatan seni budaya dan pameran yang menampilkan produk kreatif asli Lebak serta kegiatan meriah lainnya. Acara tersebut berlangsung selama tujuh hari terhitung dari tanggal 29 April hingga 5 Mei yang bertempat di sekitaran Alun-Alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Acara yang masuk dalam 100 Calendar of Events 2019 Kementerian Pariwisata ini, berhasil menarik antusiasme masyarakat lokal hingga luar daerah, bahkan terdapat beberapa wisatawan mancanegara yang ikut memeriahkan acara ini khususnya saat prosesi utama upacara Seba Baduy pada hari Sabtu, 4 Mei 2019. Acara ini sendiri pertama kali diadakan pada tahun 2013.


Dalam Bahasa Baduy “Seba” berarti seserahan, sehingga makna dari Seba Baduy itu sendiri adalah ritual seserahan hasil bumi serta melaporkan berbagai kejadian yang telah berlangsung setahun terakhir di Suku Baduy kepada Ibu Gede dan Bapak Gede, yakni Bupati Lebak Iti Hj. Octavia Jayabaya dan Gubernur Banten H. Wahidin Halim. Inilah ungkapan rasa syukur masyarakat Baduy atas hasil panen yang telah mereka tuai dan keinginan untuk berbagi dengan sesama. Selain memberikan seserahan berupa hasil tani, dalam ritual ini juga terjadi dialog budaya antara masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar yang menitipkan pesan kepada para panggede atau pihak Pemerintah untuk menjaga kelestarian alam, hutan, dan lingkungan. Bupati Lebak dalam sambutan penerimaannya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Baduy yang tetap memegang teguh tradisi dalam menjaga dan melestarikan alam serta memohon dukungan dari masyarakat Baduy untuk bersama-sama membangun Kabupaten Lebak.

Acara Seba Baduy 2019 yang diikuti 1.035 jiwa warga Baduy, termasuk 13 jiwa warga Baduy Dalam ini merupakan salah satu dari sekian banyak event wisata di Kabupaten Lebak yang telah disiapkan guna mendukung visi misi Bupati Lebak yaitu Kabupaten Lebak sebagai destinasi wisata unggulan nasional berbasis potensi lokal. Dikutip dari Banten News, Asisten Daerah (Asda) III Kabupaten Lebak, Dedi Lukman Indepur yang hadir mewakili Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, dalam sambutannya saat membuka rangkaian acara Seba Baduy 2019, mengimbau kepada seluruh elemen pemerintah dan masyarakat agar mewacanakan acara Seba Baduy ini sebagai ikhtiar bersama untuk meningkatkan minat kunjungan wisatawan dalam menyaksikan acara adat masyarakat Baduy yang diadakan setahun sekali. 

Melihat antusiasme masyarakat terhadap salah satu event wisata ini, diharapkan dapat menular juga kepada wisata-wisata lainnya di Kabupaten Lebak. Hal tersebut tentunya akan berdampak terhadap pembangunan ekonomi daerah khususnya masyarakat yang berada di sekitar kawasan wisata tersebut. Penguatan sektor wisata ini juga dalam rangka peningkatan capaian kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Lebak. Itu semua merupakan pekerjaan rumah bersama antara pemerintah dan juga masyarakat, seperti yang pernah diutarakan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak, Dede Jaelani, saat Konsultasi Publik yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak bahwa seluruh elemen masyarakat harus bekerja maksimal dan optimis bahwa pariwisata akan menjadi lokomotif pendongkrak sektor ekonomi di Kabupaten Lebak.

Selasa, 25 Oktober 2016

Menggali produk rencana berbasis sosial-ekonomi (Desa Wisata Bedono dengan Konsep CBT)

A.  Pendahuluan
Pada awalnya, sesuai dengan sejarah perencanaan pembangunan, di mana ada konsep pengembangan wilayah yang dilaksanakan secara development from above, development from below dan selective spatial closure, agropolitan tidak memberikan hasil yang diinginkan dan sulit diimplementasikan, maka lahirlah konsep local economic development.

Konsep pengembangan ekonomi lokal berusaha memadukan konsep-konsep tersebut, dengan mengembangkan dan meningkatkan peran elemen-elemen endogenous development dalam kehidupan sosial ekonomi lokal dan melihat keterkaitan serta integrasinya secara fungsional dan spasial dengan wilayah yang lebih luas (Ma’rif : 2000).

Teori Pengembangan Ekonomi Lokal pada intinya mengemukakan bagaimana mengembangkan perekonomian lokal dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki, sejauh mana industri tersebut menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat dan menumbuhkan perekonomian lokal serta bagaimana keberlanjutannya pada masa yang akan datang. Menurut Coffey and Polase dalam Blair (1985) proses berkembangnya perekonomian lokal pada dasarnya meliputi empat tahap : pertama, tumbuhnya kewiraswastaan (entrepreneurship) lokal ; kedua, lepas landasnya (take off) perusahaan-perusahaan lokal ; ketiga, berkembangnya perusahaan-perusahaan tersebut keluar lokalitas, dan keempat, terbentuknya suatu perekonomian wilayah yang mengakar pada kegiatan dan inisiatif lokal serta keunggulan-keunggulan komparatif aktifitas ekonomi lokal tersebut.




Desa Bedono merupakan salah satu desa di wilayah pesisir Kabupaten Demak yang memiliki potensi wisata mangrove dan wisata religi, dengan adanya komunitas mangrove bahari dan komunitas nelayan Monosari yang sangat potensial dalam pengembangan berbasis masyarakat. Community Based Tourism merupakan konsep untuk mengelola dan mengembangkan daerahnya sendiri untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan keberlanjutan kebudayaan lokal dan sumberdaya alam. Konsep CBT juga merupakan implementasi ekonomi kerakyatan di sektor riil, yang langsung dilaksankan dan dinikmati oleh masyarakat sendiri.