Kamis, 10 September 2020

Potensi Geowisata Lebak, dari Terangkatnya Endapan Delta Purba hingga Sejarah Pertambangan Emas Pertama di Indonesia

Tim saat melakukan observasi dan dokumentasi calon geoheritage KM 0 Tambang Emas Antam Cikotok, Senin (7/9)

Lebak – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak melakukan survei dalam rangka observasi dan dokumentasi calon warisan geologi (geoheritage) di Kawasan Geopark Bayah Dome, Kabupaten Lebak, Senin (7/9). Hal ini dilakukan sebagai tindaklanjut dari hasil kajian geoheritage di Kabupaten Lebak yang dibuat oleh Tim Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi Universitas Padjajaran (Puslit GKG UNPAD).

Kegiatan yang direncanakan akan berkelanjutan ini, difokuskan terlebih dahulu di daerah pesisir dan bekas kantor PT. Antam yang menjadi saksi penambangan emas pertama di Indonesia. Survei ini dilakukan untuk mengetahui kondisi eksisting para calon geoheritage hingga dukungan aksesibilitas maupun amenitas disekitarnya serta bahan pembuatan video dokumentasi sederhana. Hal tersebut sebagai upaya persiapan Pemerintah Daerah dalam melakukan tata kelola pengembangan Geopark yang salah satunya guna mewujudkan pelestarian geoheritage. Nantinya berbagai permasalahan hingga potensi yang ada akan diinventarisir dan dianalisa untuk menjadi rekomendasi dalam upaya konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian bagi masyarakat secara berkelanjutan dari calon geoheritage yang ada.

Hasil penelusuran beberapa calon geoheritage di sepanjang pesisir Kabupaten Lebak, memang dapat dikatakan sangat berpotensi dikembangkan sebagai Geowisata. Selain dari panorama pantai nan indah hingga bentukan batuan pada dinding goa yang memukau, bukti fenomena geologi di masa lampau berupa terangkatnya endapan delta purba yang dikemas dalam sebuah interpretasi akan menjadi sebuah daya tarik wisata menarik bagi wisatawan. Sehingga wisatawan tidak hanya sekedar mendapatkan sebuah foto terbaik namun juga akan memperoleh pengalaman hingga wawasan baru dari edukasi yang diperoleh. Sedangkan untuk calon geoheritage di bekas kantor PT. Antam, kondisinya dalam keadaan baik dan sementara difungsikan sebagai sarana pendidikan. Tidak jauh dari kantor tersebut tepatnya di area belakang, masih terdapat beberapa peninggalan sejarah pertambangan emas di Cikotok yang ditempatkan di Taman Derek. Taman Derek ini sendiri telah ditetapkan menjadi cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Lebak dan juga wisata edukasi sejarah bagi masyarakat yang berkunjung. 

Adapun dalam sebuah pengembangan Geopark disyaratkan adanya sebuah penyediaan informasi keberadaan Geopark salah satunya berupa museum Geopark. Sehingga harapannya kawasan ini, dimulai dari bekas kantor PT. Antam hingga Taman Derek bisa difungsikan sebagai Museum Geopark Bayah Dome yang akan menjadi pusat informasi wisatawan untuk mengetahui berbagai hal tentang geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity di Kawasan Geopark Bayah Dome.

Minggu, 30 Agustus 2020

Rapat Bappeda Lebak – Puslit GKG UNPAD Bahas Laporan Pendahuluan Masterplan Geopark Bayah Dome

Foto bersama dengan salam khas Geopark seusai rapat di Kampus UNPAD Dipati Ukur, Kamis (6/8)

Lebak – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak gelar rapat bersama Tim Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi Universitas Padjajaran (Puslit GKG-UNPAD) di Ruang Fakultas Geologi Unpad Dipati Ukur, Kamis (6/8). Rapat ini menindaklanjuti kerjasama keduanya terkait penyusunan Masterplan Geopark Bayah Dome yang saat ini telah menyelesaikan laporan pendahuluan.

Ketua Tim Puslit GKG-UNPAD, Prof. Mega, secara langsung meyampaikan paparan laporan pendahuluan yang telah disusun. “Menyusun sebuah Masterplan/Rencana Induk Geopark adalah sebuah keharusan pemerintah daerah untuk mengembangkan Geopark sesuai arahan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark) dan juga sebagai kriteria “self assessment” dari Unesco Global Geopark (UGG),” ungkap Prof. Mega. Isi dalam Masterplan Geopark Bayah Dome nantinya tentu mengacu pada ketentuan Perpres, paling tidak terdapat 18 sasaran. Poin utamanya dalam Masterplan ini berupa rencana program 5-10 tahun ke depan dalam rangka upaya-upaya konservasi, pengembangan kepariwisataan, pengembangan ekonomi berkelanjutan, strategi kemitraan, community development, dan pengintegrasian terhadap poin-poin dalam SDG’s. “Rencananya dalam Masterplan Geopark Bayah Dome akan mengangkat tema Pembentukan Kubah Bayah dan Mineralisasi Emas-Perak”, tutur Prof. Mega yang juga bertugas sebagai Tim Asesor UGG dari Indonesia.

Kepala Bappeda Kabupaten Lebak, Hj. Virgojanti, menanggapi langsung terkait tema yang akan diusung. “Saat penyusunan kajian warisan geologi Geopark Bayah Dome, sempat muncul usulan awal dari Ketua Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Yunus Kusumahbrata, untuk mengangkat tema Endapan Delta Purba. Lalu di akhir kajian warisan geologi dan laporan pendahuluan Masterplan ini mengusung tema Pembentukan Kubah Bayah dan Mineralisasi Emas-Perak. Harapannya opsi tema-tema yang ada perlu diperjelas dan dipastikan dengan mengundang berbagai ahli,” tutur Kepala Bappeda. Secara keseluruhan pemerintah Kabupaten Lebak mendukung penuh pengembangan Geopark, apalagi ini sudah menjadi salah satu fokus Bupati sebagai salah satu perwujudan visi misi pemerintah daerah dan sebagai bagian upaya konservasi sumber daya alam yang dimiliki Lebak.

“Selanjutnya akan dilakukan Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri para tenaga ahli penyusun Masterplan dengan mengundang para pemangku kepentingan guna menyamakan persepsi dan pandangan bahwa hadirnya Geopark di Kabupaten Lebak bukan sebuah ancaman, melainkan keuntungan bagi seluruh pihak. Hal tersebut agar konsep pengembangan Geopark secara pentahelix dapat terlaksana dan bisa saling berkontribusi sesuai tupoksinya masing-masing,” tutup Kepala Bappeda.